7 Ton Ikan Sapu-Sapu Ditangkap, Jakarta Darurat Spesies Invasif
Sumber foto
: CNBC Indonesia
INFOSINI Surabaya – Hampir 7 ton ikan sapu-sapu berhasil ditangkap
dari berbagai sungai dan saluran air di Jakarta hingga pertengahan April 2026.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menggencarkan operasi besar-besaran untuk
membasmi ikan invasif ini dari perairan ibu kota. Namun di balik keberhasilan
penangkapan itu, muncul berbagai polemik yang justru menjadi perhatian publik.
Ikan sapu-sapu bukan ikan biasa.
Hewan yang berasal dari Amerika Selatan ini dikenal sangat tangguh karena mampu
hidup di air yang kotor dan minim oksigen sekalipun. Di negara asalnya,
populasi ikan ini masih terkendali karena ada predator alami yang memakannya.
Namun di Indonesia, tidak ada musuh alaminya, sehingga ikan ini berkembang biak
tanpa hambatan dan menjadi ancaman nyata bagi ekosistem perairan.
Ancaman yang ditimbulkan bukan
sekadar soal jumlahnya yang membludak. Ikan ini gemar memakan telur ikan lain,
sehingga merusak keseimbangan ekosistem sungai. Lebih dari itu, kebiasaan ikan
sapu-sapu membuat lubang di dinding sungai juga merusak tanggul dan turap yang
selama ini menjadi infrastruktur penting pengendali banjir di Jakarta.
Infografik “7 Ton Ikan
Sapu-sapu ditangkap, Jakarta Darurat Spesies Invasif” (25/04/2026). Sumber :
INFOSINI Surabaya
Dari lima wilayah kota
administrasi yang terlibat dalam operasi ini, Jakarta Timur mencatat hasil
tangkapan yang cukup signifikan, yakni sebanyak 1,83 ton atau 1.831 kilogram
ikan sapu-sapu. Operasi ini menjangkau 10 kecamatan di wilayah tersebut dan melibatkan
70 personel gabungan antara petugas pemerintah dan warga.
Kecamatan Makasar menjadi wilayah
dengan tangkapan terbanyak, yaitu 481,55 kilogram. Disusul Kecamatan Ciracas
dengan 280 kilogram, dan Kecamatan Cakung sebanyak 240,6 kilogram. Angka-angka
ini menggambarkan betapa masifnya penyebaran ikan sapu-sapu di berbagai sudut
perairan Jakarta Timur.
Data
Perbandingan Tangkapan Ikan Sapu – sapu di 5 Wilayah DKI Jakarta (2026). Sumber
data : Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta
Di balik operasi penangkapan yang
dianggap berhasil, muncul kontroversi yang cukup serius. Majelis Ulama
Indonesia (MUI) menyoroti cara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menangani
ikan-ikan yang telah ditangkap, yakni dengan menguburnya dalam keadaan masih
hidup.
Permasalahan ikan sapu-sapu ini
menunjukan bahwa kualitas air di Jakarta masing sangat buruk. Air sungai yang
tercemar membuat spesies ikan lokal semakin terancam, air sungai yang tercemar
justru memberikan habitat yang ideal bagi ikan sapu-sapu untuk semakin
beekembang biak. Upaya penangkapan besar-besaran ini juga dikhawatirkan hanya
menjadi solusi jangka pendek jika kualitas air tidak di perbaiki secara
menyeluruh.
Kondisi ini semakin menegaskan
bahwa persoalan ikan sapu-sapu tidak bisa dilepaskan dari kualitas lingkungan
yang lebih luas. Buruknya pengelolaan limbah rumah tangga dan industri di
sejumlah wilayah Jakarta turut menciptakan ekosistem yang justru mendukung
keberlangsungan hidup ikan invasif tersebut. Akibatnya, upaya penangkapan yang
dilakukan saat ini berpotensi tidak efektif dalam jangka panjang apabila tidak
dibarengi dengan perbaikan kualitas air sungai secara menyeluruh.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung
mengatakan akan ada penugasan secara khusus Penyedia Jasa Lainnya Perorangan
(PJLP) untuk menangani ikan sapu-sapu secara lebih intensif. Penugasan ini
diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam penanganan yang lebih sistematis
dan berkelanjutan. Namun, sejumlah pihak menilai bahwa keberhasilan program ini
akan sangat bergantung pada sinergi lintas sektor, mulai dari penguatan
regulasi lingkungan, pengawasan limbah, hingga peningkatan kesadaran
masyarakat. Tanpa pendekatan yang komprehensif, ancaman ikan sapu-sapu
diperkirakan akan terus berulang dan menjadi beban berkelanjutan bagi ekosistem
perairan Jakarta.
Keberhasilan menangkap hampir 7
ton ikan sapu-sapu dari perairan Jakarta bukanlah akhir dari cerita, justru
sebaliknya. Di balik angka itu tersimpan kenyataan pahit bahwa sungaisungai
Jakarta telah lama menjadi tempat yang ramah bagi spesies invasif, namun
semakin tidak bersahabat bagi ekosistem aslinya. Ikan sapu-sapu hadir bukan
tanpa sebab, ia tumbuh subur justru karena kita membiarkan sungai kita sakit
terlalu lama.
Maka penangkapan massal ini, sebesar apapun skalanya, hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna jika akar masalahnya dibiarkan. Perbaikan kualitas air, pengendalian limbah rumah tangga dan industri, serta kesadaran kolektif masyarakat adalah kunci yang tidak bisa diabaikan. Jakarta tidak hanya butuh operasi penangkapan. Namun, Jakarta butuh komitmen jangka panjang untuk benar-benar memulihkan sungainya. Karena selama airnya kotor, spesies invasif apapun akan selalu punya alasan untuk tinggal.
Penulis : Shalwha Alyssa, Nabilah Putri, Nonnyta Aleona, Virna Nadya, Daniel Nduru, Seventover, Kafin Wildani, Rizky Alfarez, Anaisya Ayu, Gita Vania.
Komentar