 |
| Dokumentasi: Maybank Marathon |
INFOSINI SURABAYA – Siapa bilang Gen Z cuma rebahan dan scrolling media sosial? Faktanya, generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012 ini justru semakin aktif bergerak dan menjadikan olahraga sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari mereka.
Hal ini dibuktikan oleh laporan terbaru dari Populix bertajuk "Understanding Indonesia's Sports Trends" yang melibatkan 1.030 responden, mayoritas dari kalangan Gen Z dan Milenial. Hasilnya cukup mengejutkan sebanyak 94 % responden mengaku secara rutin berolahraga, setidaknya sepekan sekali. Artinya, hampir 9 dari 10 anak muda Indonesia sudah aktif bergerak secara teratur.
Dari sekian banyak pilihan olahraga, lari masih menjadi raja. Sebanyak 90 % responden mengaku berolahraga di luar lapangan. Dari kategori ini, lari memimpin dengan 44 %, diikuti bersepeda 32 %, berenang 27 %, dan gym 26 %. Alasannya sederhana lari tidak butuh peralatan mahal, tidak perlu tempat khusus, dan bisa dilakukan kapan saja. Cukup pakai sepatu, keluar rumah, dan mulai berlari. Praktis, fleksibel, dan gratis.
Tren ini juga didukung data global. Berdasarkan analisis miliaran aktivitas global dan survei terhadap lebih dari 30.000 responden pengguna Strava, lari masih menjadi olahraga paling populer pada 2025, dengan lonjakan partisipasi event lari yang datang terutama dari kalangan Gen Z, mereka 75 % lebih sering menjadikan event lari sebagai motivasi utama dibanding Gen X. Bahkan, fenomena "pelari kalcer" singkatan gaul dari culture kian marak. Lari kini bukan sekadar olahraga, tapi pernyataan gaya hidup yang dipadukan dengan outfit trendi dan konten media sosial yang estetik.
Kalau lari jadi juara di kategori non lapangan, badminton tampil sebagai bintang di kategori olahraga lapangan. Dari 84 % responden yang memilih olahraga berbasis lapangan, mayoritas 56 % mengaku bermain badminton. Sepak bola menyusul di posisi kedua 38 %, diikuti futsal 33 %, basket 24 %, tenis 17 %, golf 15 %, dan tenis meja 9 %. Dominasi badminton ini tidak mengherankan. Indonesia punya tradisi panjang di cabang olahraga ini, dan lapangan bulu tangkis mudah ditemukan di mana-mana dari komplek perumahan, sekolah, hingga gedung olahraga umum.
 |
| Sumber: INFOSINI SURABAYA |
Selain olahraga konvensional, sejumlah olahraga ritmik juga mulai merambah hati Gen Z. Zumba diminati 14 % responden, pilates 11 %, senam 9 %, dan pound fit 5 %. Jenis olahraga ini populer karena bisa dilakukan dalam ruangan, diiringi musik yang menyenangkan, dan kerap tersedia dalam format kelas kelompok yang membuat suasana lebih seru. Bagi Gen Z perempuan khususnya, kelas pilates dan zumba sudah hampir setara dengan gym sebagai tempat "nongkrong sehat."
Frekuensi olahraga Gen Z memang belum bisa dibilang sangat intens, tapi sudah cukup konsisten. Mayoritas responden 68% berolahraga 1-2 kali seminggu, sementara 23 % lebih rutin dengan frekuensi 3-4 kali seminggu. Hanya 6% yang berolahraga setiap hari. Soal waktu, pagi hari menjadi pilihan favorit 58 %, diikuti sore hari 32 %. Dari segi lokasi, rumah 42 % dan lapangan dekat tempat tinggal 23 % masih jadi tempat olahraga paling banyak dipilih. Ini menunjukkan bahwa Gen Z lebih suka olahraga yang praktis dan tidak jauh dari jangkauan mereka.
Ada satu hal menarik yang membedakan cara Gen Z berolahraga dari generasi sebelumnya adalah media sosial memainkan peran besar. Di era ini, olahraga tidak hanya dilakukan karena ingin sehat atau bugar, tapi juga karena ingin tampil keren di dunia maya. Video lari pagi yang estetik, kelas yoga di studio kekinian, atau foto progres gym menjadi pemandangan lumrah di Instagram dan TikTok.
Fenomena ini bahkan memunculkan istilah FOMO (Fear of Missing Out) rasa takut ketinggalan tren. Mulai dari gym, fun run, thrill run, hingga olahraga paddle, linimasa dipenuhi unggahan keringat, outfit olahraga, hingga tangkapan layar aplikasi lari seperti Strava. Tapi di balik itu semua, ada sisi positif yang tidak bisa diabaikan. Fenomena FOMO olahraga ini membuat banyak anak muda jadi lebih sadar pentingnya menjaga kesehatan. Mereka jadi lebih aktif bergerak, mencoba berbagai jenis olahraga, dan membentuk komunitas yang saling mendukung.
Tren yang paling menarik dari Gen Z adalah cara mereka memandang olahraga secara keseluruhan. Sepanjang 2025, Gen Z semakin memprioritaskan olahraga, koneksi sosial, dan komunitas dibanding waktu layar. Mereka juga menemukan kebersamaan melalui klub lari, dan mulai menjadikan olahraga sebagai gaya hidup, bahkan saat berlibur.
Bahkan, sebanyak 64 % Gen Z lebih memilih membeli perlengkapan olahraga dibanding menghabiskan uang untuk berkencan. Dan 46% menganggap olahraga sebagai pilihan ideal untuk kencan pertama. Kalau kata orang zaman dulu, "orang sehat itu keren" dan Gen Z rupanya sangat setuju dengan itu.
Rata-rata, responden survei Populix mengaku melakukan empat jenis olahraga, baik yang membutuhkan lapangan maupun yang bisa dilakukan tanpa lapangan khusus. Ini membuktikan bahwa Gen Z tidak terpaku pada satu jenis olahraga saja, dan mereka senang mengeksplorasi berbagai aktivitas fisik sesuai mood dan kesempatan.
Tren olahraga di kalangan Gen Z bukan sekedar gaya hidup sementara, tetapi sudah menjadi kebutuhan. Dengan persentase minat yang tinggi pada berbagai jenis olahraga, generasi ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Lari, badminton, hingga gym kini bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga bagian dari identitas modern yang sehat dan aktif.
Jadi, apakah Gen Z malas olahraga? Jawabannya, tidak. Mereka hanya punya cara berolahraga yang lebih beragam, lebih fleksibel, dan lebih terhubung dengan komunitas maupun media sosial. Justru itulah yang membuat tren olahraga di kalangan Gen Z terus berkembang.
Anaisya Ayu Tamara Deva
Komentar