Ghost In The Cell: Ketika Hantu Jadi Cermin Bangsa
Poster resmi film Ghost in the Cell
(2026)
sumber foto; Dok. Come and See Pictures
INFOSINI SURABAYA – Film ini lahir dari kemarahan
yang ditahan selama delapan tahun. Sutradara Joko Anwar pertama kali menulis
naskah Ghost in the Cell pada 2018, ketika pembalakan liar di Indonesia sedang
menjadi-jadi dan belum ada tanda-tanda akan mereda. Ia menunggu. Berharap
kondisi membaik. Tapi ketika 2020 tiba, yang berubah bukan keadaan, melainkan
keyakinannya bahwa keadaan itu tidak akan pernah berubah dengan sendirinya.
Maka lahirlah Ghost in the Cell — bukan sekadar film horor, bukan sekadar
komedi, tapi sebuah teriakan yang dibungkus rapi dalam genre agar tidak terlalu
menyakitkan untuk ditonton, tapi cukup tajam untuk membekas.
Ghost in the Cell resmi tayang di bioskop Indonesia pada 16
April 2026. Namun sebelum penonton Indonesia berkesempatan menontonnya, film
ke-12 Joko Anwar ini terlebih dahulu mendunia — tampil di Berlinale 2026,
Festival Film Internasional Berlin, dalam seksi bergengsi Forum. Seksi yang
sejak lama dikenal sebagai ruang bagi karya-karya yang berani secara gagasan
dan tidak takut meninggalkan rasa tidak nyaman pada penontonnya.
Sebelum tayang nasional, Ghost in
the Cell lebih dulu diputar di 16 kota di Indonesia dan seluruh tiketnya
terjual habis. Hak tayang internasional pun telah diamankan oleh 86 negara di
berbagai belahan dunia, dengan Barunson E&A — studio Korea Selatan di balik
Parasite-nya Bong Joon Ho — memegang distribusi global.
Di dalam film, narapidana Lapas
Labuhan Angsana bukan sekadar karakter fiksi. Mereka adalah representasi rakyat
yang terjebak dalam sistem yang tidak pernah dirancang untuk melindungi mereka.
Lapas dalam film ini — yang terinspirasi dari Lapas Sukamiskin — sengaja
dirancang sebagai metafora negara. Perbedaan mencolok antara Blok C dan Blok K
adalah cermin dari ketimpangan yang sudah lama dikeluhkan tapi tidak kunjung
dibenahi.
Lalu datanglah hantu. Entitas
misterius ini bukan simbol abstrak, melainkan karakter nyata dengan niat,
kecerdasan, dan batasnya sendiri. Ia memilih korban berdasarkan aura negatif —
frustrasi, amarah, dan energi gelap yang menumpuk. Menariknya, hantu ini
diceritakan berasal dari hutan lindung yang dihancurkan oleh keserakahan
manusia.
"Hantu dalam film ini bukan
hanya kehadiran yang menghantui sel penjara, tapi juga pengingat tentang
konsekuensi yang kita pilih untuk tidak hadapi," kata Joko Anwar dalam
pernyataan resminya.
Kritik boleh keras, tapi Ghost in
the Cell memilih jalur yang tidak biasa: komedi. Bukan komedi yang menghibur
dan melegakan, tapi komedi yang mempertajam ketegangan. "Humor dalam film
ini tidak melepaskan ketegangan, ia menajamkannya. Tawa harus hadir bersamaan
dengan ketidaknyamanan. Kalau penonton tertawa lalu langsung mempertanyakan
kenapa mereka tertawa, berarti nadanya berhasil," kata Joko dalam
wawancara dengan Variety.
Enam ilustrator lokal ikut ambil
bagian dalam merancang konsep instalasi seni untuk setiap kematian dalam film
ini — Anwita Citriya, Rudy Ao, Benediktus Budi, Benny Bennos Kusnoto,
Hafidzjudin, dan Coki Greenway.
Di dalam negeri, Ghost in the Cell
disambut antusiasme yang melampaui ekspektasi. Pada hari pertama tayang, 16
April 2026, sebanyak 154.279 penonton memadati bioskop di seluruh Indonesia.
Hari kedua angkanya justru naik dengan tambahan 156.238 penonton. Dalam enam
hari, film ini sudah menembus 1.055.491 penonton. Hingga 24 April 2026, total
penonton mencapai 1,3 juta, menempatkan Ghost in the Cell di posisi keenam film
terlaris Indonesia sepanjang 2026.
Dengan Ghost in the Cell, Joko Anwar
menjadi satu-satunya sutradara Indonesia yang berhasil membawa tujuh film
berturut-turut menembus angka 1 juta penonton — sebuah konsistensi yang belum
pernah dicapai sineas mana pun dalam sejarah perfilman Indonesia.
Ghost in the Cell adalah bukti bahwa film Indonesia tidak hanya mampu bersuara keras di dalam negeri, tapi juga relevan di mata dunia. Ketika penonton tertawa di dalam gelap bioskop, mereka juga sedang bertanya pada diri sendiri: kenapa ini terasa sangat familiar? Jawabannya ada di luar pintu bioskop — dan itulah tepatnya yang ingin Joko Anwar tunjukkan. Ghost in the Cell masih tayang di bioskop seluruh Indonesia.
Daniel Nduru
Komentar